Setiap orang memiliki keberuntungannnya masing-masing. Ungkapan tersebut tepat untuk menggambarkan betapa tidak beruntungnya penderita atau individu dengan hemofilia dibandingkan individu normal. World Federation of Hemophilia atau Federasi Hemofilia Dunia menetapkan hari hemofilia sedunia yang jatuh setiap tanggal 17 April untuk tahun 2008 ini bertema ‘Treatment for All!’. Tema tersebut sangatlah tepat mengingat penanganan yang memadai untuk hemofilia baru dinikmati oleh sebagian kecil penderitanya, mengakibatkan masih tingginya angka kecacadan dan kematian pada hemofilia padahal jika mendapat penanganan memadai mereka memiliki harapan hidup dan produktivitas sama seperti individu normal lainnya.
Apakah hemofilia itu?
Setiap perdarahan akan mengaktivasi mekanisme penyeimbangnya, ialah proses pembekuan darah pada dinding pembuluh darah di tempat terjadinya perdarahan sebagai upaya tubuh untuk menghentikan perdarahan yang tengah berlangsung. Pada hemofilia, berasal dari kata haima = darah dan philia = menyukai, terdapat ketidak mampuan tubuh penderitanya menghasilkan faktor pembekuan tersebut dalam jumlah normal, dengan demikian jika ia mengalami perdarahan senantiasa berkecenderungan berkepanjangan akibat sedikitnya pembekuan yang mampu dihasilkan. Oleh karena perdarahan dapat terjadi setiap waktu dalam kehidupan setiap orang, maka hakekatnya mereka senantiasa dalam bayang-bayang perdarahan yang dapat mengancam jiwa atau menimbulkan kecacadan di setiap waktu sepanjang hidupnya.
Penyakit ini merupakan penyakit dengan kecenderungan perdarahan diwariskan paling sering dijumpai yang disebabkan karena kerusakan gena penyandi dihasilkannya faktor pembekuan VIII atau IX atau XI. Keadaan ini diwariskan dari orang tua kepada anaknya dan hanya diderita oleh laki-laki sedangkan perempuan berperan sebagai carrier atau pembawa sifat yang menurunkan penyakit tersebut.
Hemofilia merupakan penyakit tua karena sudah dikenal sejak tahun 4 masehi, dibedakan sebagai hemofilia A, B atau C masing-masing disebabkan kekurangan kadar faktor pembekuan VIII, atau IX atau XI. Ketiganya mempunyai gejala yang sama dan diagnosisnya hanya bisa dibedakan dengan pemeriksaan laboratorium. Berdasarkan kadar faktor pembekuan dalam tubuh hemofilia dibagi menjadi berat (kadar kurang dari 1%), sedang (1-5%) dan ringan (6-30%) sementara pada orang normal kadarnya 100-150%. Karena merupakan penyakit keturunan yang telah ada sejak dalam kandungan, hemofilia dapat dikenali sejak usia bayi baru lahir berupa tali pusat merembes darah, tanda perdarahan otak (kejang, penurunan kesadaran, muntah) atau pada usia sesudahnya berupa adanya riwayat perdarahan berulang di kulit seperti lebam kebiruan yang makin meluas akibat benturan atau tindakan medik seperti suntikan imunisasi, perdarahan sendi, otot, bekas gigi tanggal, pasca dikhitan, dll. Informasi penting lain adalah adanya riwayat anggota keluarga sekandung atau saudara yang lain dari pihak ayah dan ibu berjenis kelamin laki-laki dengan keluhan serupa.
Penanganan utama hemofilia meliputi pemberian faktor pembekuan AHF (anti hemophiliic factor) untuk meningkatkan kadarnya dalam tubuh ketika terjadi perdarahan dan tindakan mengatasi akibat yang ditimbulkan oleh perdarahan itu sendiri seperti keadaan kurang darah, gangguan fungsi organ tubuh akibat pendesakan oleh massa darah maupun tindakan koreksi atas kecacadan yang timbul seperti kekakuan sendi dan sebagainya. AHF sebagai hal utama dan pertama merupakan tulang punggung penanganan hemofilia dapat diberikan pada saat perdarahan atau diluar kejadian perdarahan sebagai upaya pencegahan. Walaupun bisa di dapat di Indonesia, tetapi mengingat harganya sangat mahal bagi sebagian besar penderita atau keluarganya dan harus diberikan sepanjang hidup menyebabkan hemofilia merupakan penyakit yang sangat mahal yang dapat menjadikan ‘miskin’ orang kaya sekalipun.
Pada tingkat dunia hingga saat ini telah dicapai banyak kemajuan dari berbagai upaya dan penelitian untuk mendapatkan cara penanganan terbaik hemofilia. Sayangnya semua kemajuan penanganan tersebut hanya dapat dinikmati oleh sekitar 20% penderita hemofilia yang umumnya berada di negara maju sementara sisanya 80% yang umumnya berada di negara berkembang, termasuk Indonesia, tidak dapat memperolehnya karena alasan kondisi ekonomi dan terbatasnya fasilitas.
Masalah pada hemofilia
Meskipun penanganan terbaik hemofilia sudah jelas diketahui, tetapi masih banyak masalah yang menyebabkan kecacadan atau bahkan kematian tinggi penderitanya, diantaranya adalah sifat penyakit yang tidak dapat disembuhkan; Beban psikologis, sosial dan ekonomi sangat tinggi akibat ancaman perdarahan seumur hidup; Masih sedikitnya fasilitas kesehatan yang dapat memberikan pelayanan memadai untuk hemofilia; Pemberian AHF itu sendiri dapat memicu timbulnya zat anti terhadap AHF yang akan menetralkan AHF yang kita berikan di kemudian hari sehingga makin menambah kompleks dan mahalnya pengobatan; Masih sedikitnya keluarga atau masyarakat, bahkan petugas kesehatan yang mengenal hemofilia dengan baik sehingga menyebabkan penderita terdiagnosis atau ditangani sebagai bukan hemofilia atau meninggal di usia muda tanpa diketahui atau dicatat sebagai penderita hemofilia.
Pelayanan Penyakit Perdarahan di Yogyakarta
Mendasarkan pada realita di atas saat ini tengah dikembangkan Program Pelayanan Penyakit Perdarahan Yogyakarta (Yogyakarta Bleeding Disorders Program) di Sub Bagian Hematologi Anak RSUP Dr Sardjito bekerjasama dengan Saskatchewan Bleeding Disorders Program, di Saskatoon, Kanada. Beberapa kegiatannya adalah registrasi penderita hemofilia (hingga kini telah tercatat sekitar 80 penderita hemofilia dari berbagai kota yang mendapatkan pelayanan dari RS Dr. Sardjito), pemeriksaan kadar faktor pembekuan, mendirikan Paguyuban Hemofilia Jogja yang beranggotakan penderita, keluarga penderita, petugas kesehatan; menerbitkan buletin triwulan ‘Hemofilia Jogja’ dan menyelenggarakan Temu Hemofilia se Jawa (2006) dan menjadi penyelenggara Kongres Nasional Himpunan Masyarakat Hemofilia Indonesia ke dua dan berbagai kegiatan ilmiah yang mengiringinya pada 18 - 20 April 2008 ini.
Apa yang bisa kita lakukan
Rasanya sudah sewajarnyalah jika kita yang diberikan ‘keberuntungan’ badan normal menaruh perhatian kepada mereka. Semua fihak dapat bekerja sama dalam membantu mereka tanpa harus menjadikan mereka tergantung. Mahasiswa atau pemuda dapat meyumbangkan darah menjadi donor bagi mereka, dokter/petugas kesehatan dapat membantu mengenali dan memberikan penanganan yang memadai, para orang tua dan tetangga dapat membantu mengenali dan mengantarkan secepatnya ke RS.
Pudjo Hagung Widjajanto,Praktisi hemofilia di Jogja